terkini

Iklan

Jemaah Masjid Ukhuwah Islamiyah Puri Domas Wisata Religi ke Jawa Timur dan Jawa Tengah

Zulfitri ( Admin )
09 Agustus 2026, 12.56 WIB Last Updated 2026-08-09T05:56:22Z

 



AJN - SLEMAN, JEMAAH pengajian dalam ketakmiran Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) Perumahan Puri Domas, Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta melakukan wisata religi ke Jawa Timur dan Jawa Tengah, Sabtu (8/8/2026).


Wisata religi dimaksud meliputi dua masjid, masing-masing Masjid Samin Baitul Muttaqin Bojonegoro, Jawa Timur dan Masjid Al-Falah, Sragen Jawa Tengah. Kedua masjid yang dikunjungi dinilai memiliki manajemen yang sangat baik dalam pengelolaannya dan dapat dijadikan contoh bagi masjid lain.


Rombongan wisata religi dipimpin H Sadid Yusri.


Demikian dilaporkan H Nurdin F Joes, asal Aceh, yang menjadi menjadi peserta tamu dalam wisata religi tersebut.


Di Masjid Samin Baitul Muttaqin, rombongan wisata religi diterima pengurus masjid setempat, Supardi.


Dijelaskan, masjid ini dibangun Pemkab Bojonegoro dengan nama awal Masjid Ah-Nahda. Lalu, kemudian berganti nama menjadi Masjid Samin Baitul Muttaqin.


Sekeliling masjid ini tumbuh kegiatan UMKM dari masyarakat lokal dan dapat memanjakan kebutuhan pengunjung. Masjid tidak pernah sepi karena dikunjungi tamu yang datang dari berbagai daerah.


Dari informasi yang ada, lanjut F Joes yang merupakan mantan Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Aceh ini, Samin merupakan nama suku yang pola kehidupan sosialnya dinilai unik.


Masyarakat Samin atau Sedulur Sikep berasal dari kawasan Pegunungan Kendeng, dengan pusat persebaran terbesar di Kabupaten Blora (Jawa Tengah) dan Kabupaten Bojonegoro  (Jawa Timur), khususnya di wilayah perbatasan kedua provinsi tersebut. 


Sebaran wilayah suku Samin yang berada di Blora Jawa Tengah berpusat di Desa Klopoduwur (Kecamatan Banjarejo) dan Desa Sambongrejo (Kecamatan Sambong). Sementara di Bojonegoro Jawa Timur berpusat di Dusun Jepang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo.  Pengikut Samin juga tersebar di wilayah lain, sekitar daerah Pati, Kudus, Rembang, Grobogan, hingga Ngawi.


Keunikan masyarakat Suku Samin (Sedulur Sikep) memegang ajaran leluhur yang disebut ajaran Samin atau agama Adam, yang berfokus pada budi pekerti luhur, kejujuran, dan harmoni dengan alam. Seiring waktu, sebagian besar warga Samin kini telah memeluk agama formal yang diakui negara seperti Islam, sementara nilai-nilai adat leluhur tetap dijaga. 


Pandangan hidup dan keyakinan Samin sebagai ajaran leluhur, adalah berpegang pada petuah Samin Surosentiko yang mengutamakan kejujuran, kesederhanaan, dan tidak merugikan orang lain.


Di sisi pandangan agama Adam, sebagian masyarakat mengenalnya sebagai bentuk ajaran awal yang menghargai hubungan manusia dengan Sang Pencipta (Yai) dan alam semesta. 


Banyak keturunan Samin yang kini tercatat secara administratif dan praktiknya memeluk agama Islam, terutama karena pengaruh pendidikan, interaksi sosial, dan pernikahan. 


Keunikan suku ini atau Sedulur Sikep terletak pada tiga hal utama, yaitu filosofi kejujuran ekstrem, tradisi perlawanan pasif tanpa kekerasan terhadap kolonial Belanda, dan gaya hidup agraris yang sangat bersahaja. 


Filosofi dan ajaran hidup Sedulur Sikep yang menjadi konsep dasar dengan  memandang semua manusia setara, jujur, dan berbuat baik tanpa membedakan status. Komunitas masyarakat ini menolak berdagang dan memilih hidup sebagai petani karena khawatir aktivitas jual-beli memicu sifat curang atau niat menipu. Ucapan mereka jujur, pantang berbohong dan mencuri atau mengambil hak milik orang lain dalam keseharian.


Ditambahkan, jemaah wisata religi MUI melaksanakan shalat dhuha, mengunjungi kios-kios UMKM sekitar masjid, dan mengakhiri kegiatannya dengan shalat zuhur di Masjid Samin Baitul Muttaqin.


Selepas itu, jemaah wisata meninggalkan Masjid Samin Jawa Timur dan bergerak ke Jawa Tengah, tujuan Masjid Al-Falah.


Masjid Al-Falah Sragen juga memiliki manajemen yang sangat baik dan berdampak pada nilai kemanfaatan bagi jemaah dan musafir.


Masjid ini merupakan masjid agung kabupaten yang terletak di Jalan Sukowati, Sragen Tengah, Kabupaten Sragen. Masjid Al-Falah dikenal luas sebagai masjid ramah musafir, anak, dan orangtua yang buka 24 jam nonstop dan menyediakan fasilitas lengkap gratis seperti kamar/kotak tidur (sleeping box), teh jahe, kopi, dan camilan serta wi-fi bagi siapa saja yang singgah. 


Tempat istirahat gratis bagi musafir disediakan puluhan kotak tidur (sleeping box) atau kasur dan bantal ala hotel kapsul bagi musafir yang kemalaman di jalan.


Banyak pula titik colokan listrik untuk mengisi daya hand-phone.


Sebelum meninggalkan masjid ini, peserta wisata religi melaksanakan shalat ashar.


Panitia wisata religi lainnya, H Ahmad Mukhlis dan koordinator kepesertaan Mulyono secara senada mengatakan, di samping melihat keunggulan manajemen masjid Samin Baitul Muttaqin Bojonegoro Jawa Timur dan Masjid Al-Falah Sragen Jawa Tengah, wisata religi ini juga bertujuan refreshing, mempererat tali silaturrahim bersandar ukhuwah Islamiyah antara jamaah peserta, dan membangun kekompakan untuk terus memakmurkan masjid MUI Puri Domas.


Wisata ini juga dinilai sangat sukses dan menyenangkan. Antara lain disebabkan, peserta terlayani dengan baik selama perjalanan pulang-pergi berkat kesigapan dan keikhlasan staf layanan umum kepanitiaan yaitu Aa Yadhi dan Widarsono.


Seterusnya, peserta wisata menutup rangkaian kegiatan dengan makan malam dengan menu bakso mie ayam, teh, dan jus jeruk di warung Idolaku Pak Tikno Klaten, Jawa Tengah dan shalat maghrib. Lalu, kembali ke Perumahan Puri Domas, Dusun Sempu, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. [ ]

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Jemaah Masjid Ukhuwah Islamiyah Puri Domas Wisata Religi ke Jawa Timur dan Jawa Tengah

Terkini